Terkait Habib Rizieq, Fahri Hamzah: Instagram Harus Fair

Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan Instagram harus adil kepada semua orang yang ada di dalam komunitasnya.

Komentar ini dilontarkan Fahri sebagai tokoh politik sekaligus salah satu penggiat media sosial, saat diminta menanggapi kasus hilangnya postingan Instagram yang menampilkan Habib Rizieq Shihab.

Untuk diketahui, sebagaimana diwartakan CNNIndonesia.com, sejumlah pengguna Instagram melaporkan postingan mereka yang terkait dengan Habib Rizieq Shihab hilang dari jejaring sosial berbagi foto dan video tersebut. Juru bicara Instagram kemudian juga sudah memberikan penjelasannya kepada detikINET.

“Instagram adalah platform terbuka yang memfasiltasi dialog di dunia maya. Karena terbuka, setiap orang bisa mengisi sesuai dengan fikiran dan latar belakang mereka. Maka yang paling baik adalah Instagram memfasilitasi dialog yang positif,” kata Fahri dihubungi detikINET, Selasa (9/4/2019).

Namun karena sifatnya yang terbuka itu pula, dikatakan Fahri, Instagram kadang-kadang mendapatkan semacam komplain dari sekelompok orang terhadap orang tertentu.

“Menurut saya, Instagram juga harus punya semacam fair treatment terhadap semua orang yang ada di dalam komunitas. Instagram tidak boleh menunjukkan pretensi ideologi dan politik tertentu,” urainya.

Untuk bisa memahami itu semua, menurut Fahri, Instagram juga harus punya analis-analis yang netral untuk membaca dinamika sebuah masyarakat.

Fahri meyakini bahwa sebagai sebuah inisiatif yang berbasis filsafat masyarakt terbuka, Instagram tentunya terbuka dengan apapun yang ingin dikatakan dan disampaikan para pengguna layanannya.

“Itu sebabnya saya yakin Instagram sedang memperbaiki diri bahwa terbuka dengan siapa pun untuk saling memahami, lebih penting daripada mengembangkan praduga dan prasangka yang tidak benar, dan itu bisa menyebabkan munculnya unfair treatment dan merasakan bahwa Instagram tidak menjadi milik semua orang,” urainya.

Jika demikian, kata Fahri, ujung-ujungnya Instagram bisa mengalami kerugian karena perspektif yang didapatkannya menjadi terbatas.

“Ya sebagai orang atau sebagai komunitas yang terbuka, kita harus mau menerima semua perspektif dari berbagai latar yang berbeda,” tutupnya.

(rns/rns)