SwipeCrypto, Bisnis Olah Data Berbasis Blockchain

Jakarta – SwipeCrypto, upaya rintisan monetisasi keterlibatan aplikasi seluler, yang menawarkan model baru dalam menghargai setiap bit informasi yang dihasilkan oleh pengguna aplikasi.

Berbeda dengan model interaksi yang terjadi selama ini, di mana lalu lintas data terkumpul pada satu pangkalan data yang dikuasai hanya oleh segelintir pihak, SwipeCrypto memungkinkan tata kelola bagi hasil biaya iklan yang lebih transparan dan terdesentralisasi.

Model monetisasi data yang ada saat ini pada umumnya tidak memberikan imbalan apa pun kepada pengguna aplikasi sebagai “sumur minyak” baru dalam ekonomi data.

Pengguna aplikasi yang secara kontinyu menerbitkan data juga tidak tahu siapa dan untuk apa data tersebut kemudian digunakan. Padahal seringkali data-tersebut bersifat sensitif atau rahasia. Pembuat aplikasi pun seringkali kesulitan dalam mendapatkan bagi hasil atas aplikasi yang dibuatnya karena tidak terintegrasinya sistem dengan gerbang pembayaran.

Sementara itu, konsumen data yang biasanya adalah korporasi yang memerlukan data pemasaran, tidak mendapatkan jaminan integritas asal – muasal data sehingga tidak jarang program kampanye pemasaran yang terkait dengan data-data tersebut menjadi salah sasaran.

SwipeCrypto mengumpulkan pengguna aplikasi, pengembang aplikasi, mitra pasar data, dan korporasi sebagai pembeli data ke dalam satu buku besar terdistribusi. Dengan memiliki tujuan nyata yang bermanfaat bagi banyak pihak maka SwipeCrypto dapat memiliki tempat tersendiri pada lanskap baru ekosistem aset kripto.

Proyek ini tidak semata-mata menjanjikan imbal hasil yang menggiurkan bagi para investor utama, para pemodal privat maupun publik namun lebih kepada penggalangan urun dana (crowdfunding) untuk pengembangan teknis wahana monetisasi data yang lebih transparan.

Alokasi penjualan token yang hanya 25% menjadi bukti bahwa proyek ini tidak sekadar mencari keuntungan dari kenaikan harga token namun ada porsi komitmen besar dari pengembang agar proyek ini bisa berjalan dengan baik dan berkesinambungan.

Nilai bitcoin terus membaik
‘Musim dingin’ berkepanjangan di dunia aset kripto kini terus membaik. Saat artikel ini ditulis, harga bitcoin kembali menembus angka Rp 100 juta. Forum-forum diskusi perdaangan aset kripto pun mulai ramai kembali karena munculnya gelombang optimisme baru yang berembus.

Banyak pengamat berpendapat bahwa harga aset kripto tidak akan fluktuatif dengan melejit cepat seperti yang terjadi pada akhir tahun 2017 untuk lalu menukik tajam di awal tahun 2018, namun perlahan tapi pasti harga berangsur-angsur membaik.

Hal ini menjadi pembuktian bahwa ekosistem perdagangan aset kripto memang berbeda dengan demam batu akik atau gelombang cinta yang tidak pernah kembali berjaya lagi setelah harganya tersungkur.

Musim dingin aset kripto yang mencekam itu bukan tanpa korban. Trader yang terlalu optimis atau salah dalam menempatkan portfolio tentu mengalami penurunan aset secara signifikan bahkan bukan tidak mungkin nyaris mendekati nol rupiah.

Demikian pula di sisi koin atau token yang merupakan aset kripto digital, kurun waktu dua tahun belakangan ini kita menyaksikan ribuan penawaran koin perdana (initial coin offering, ICO) baru sekaligus bertumbangannya ribuan koin – koin tersebut.

Bitcoin sang pionir adalah yang pertama – tama bangkit dari hempasan badai crypto winter karena memang dominasinya mencapai 58,7% jika ditandingkan dengan kapitalisasi pasar dari ribuan koin / token lainnya.

Ethereum bersama dengan banyak proyek turunannnya bertengger di posisi kedua dan menjadi favorit para pengembang teknologi blockchain karena sifatnya yang luwes dan adanya dukungan penuh dari komunitas yang tersebar di seluruh dunia termasuk Indonesia. Sementara itu, di posisi ketiga ada Ripple yang sudah mulai diuji-cobakan oleh beberapa bank untuk menjalankan transaksi pengiriman uang (remmitance).

Cahaya harapan pun muncul dari pihak berwenang yakni pemerintah berbagai negara termasuk Indonesia. Pada mulanya segala bentuk koin digital dipandang semata – mata sebagai ancaman bagi keberadaan rupiah sehingga dilarang untuk diperdagangkan.

Awal tahun 2019 ini merupakan titik balik di mana pemerintah melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mengakui keberadaan aset kripto sebagai komoditas yang dapat dibeli dan dimiliki oleh warga negara Indonesia. Dengan demikian, perusahaan penukaran aset kripto di Indonesia kini memiliki landasan hukum untuk beroperasi secara sah di republik ini.

Perubahan lanskap ini tentu perlu disambut secara positif sebab perdagangan aset kripto bukan lagi merupakan spekulasi isapan jempol tanpa dasar namun sudah merupakan upaya bersama untuk memperbaiki tata dunia yang lebih adil, transparan dan bermanfaat bagi lebih banyak pihak.

Proyek – proyek rintisan teknologi blockchain yang terkait erat dengan perdagangan aset kripto menyisakan hanya mereka yang memang punya tujuan besar dan mulia untuk memberi nilai lebih bagi masyarakat. Mereka yang menerbitkan koin karena semata – mata ingin cepat kaya turut terhempas bersama badai musim dingin yang lalu.

Seiring dengan membaiknya tingkat edukasi masyarakat pada umumnya maka koin – koin “micin” yang terasa gurih namun tidak ada nilai gizinya tersebut mulai ditinggalkan. Demam ICO pun boleh dibilang mulai berakhir dan digantikan oleh proyek – proyek yang bermanfaat nyata. (asj/asj)