Mengenal Kembali Smart City yang Disebut dalam Debat Pilpres

JakartaSmart city, atau kota pintar, turut dibahas dalam debat calon presiden (capres) keempat pada malam ini, Sabtu (30/3/2019). Lalu, apa yang dimaksud dengan smart city ini?

Soal smart city tersebut diucapkan oleh capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi). Pada kesempatan ini, Jokowi turut mengeluarkan istilah “dilan” alias digital melayani.

“Bahwa ke depan diperlukan pemerintahan Dilan, digital melayani karena yang namanya pelayanan bukan hanya melayani tapi kecepatan sangat diperlukan,” kata Jokowi dalam debat capres di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019).

Di Indonesia sendiri, konsep smart city secara perlahan mulai diadopsi oleh berbagai kota dan ini diinisiasi oleh Suhono S. Supangkat. Kendati begitu, implementasinya belum terbebas dari kendala di antaranya infrastruktur penunjang yang belum memadai.

Dalam menerapkan smart city, diperlukan akses internet yang memadai dan berbasis IT. Ketersediaan infrastruktur tersebut kemudian diintegrasikan dalam tata kelola sehari-hari sehingga menghasilkan efisiensi, peningkatan pelayanan publik, hingga menyejahterakan masyarakat.

Smart city diharapkan dapat membantu solusi kendala perkotaan. Seperti adanya transparansi dan partisipasi publik, transportasi publik, transaksi non tunai, manajemen limbah, energi, keamanan, data dan informasi. Hal ini dapat didukung melalui teknologi informasi dan komunikasi.

“Sekarang persoalan kota kalau didiamkan maka gap antara persoalan dan solusi semakin jauh. Semakin hari makin macet dan banjir. Untuk itu dicari strategi. Dan ini perlu dilakukan bersama dengan masyarakat. Co creation. Let’s do this together. Gotong royong,” papar Suhono medio 2016 silam.

Untuk menerapkan smart city di Indonesia dibutuhkan pula kolaborasi dari semua pemangku kepentingan.

“Untuk mencapai kemajuan yang lebih pesat dalam mendukung terwujudnya Indonesia cerdas, dibutuhkan suatu organisasi atau kolaborasi yang menghimpun berbagai stakeholder baik dari industri, pemerintah, pendidikan, komunitas maupun masyarakat yang melibatkan kota-kota di Indonesia,” tutur akademisi asal ITB ini.

(agt/krs)