Kisah ‘Tony Stark’ dari China yang Startup Miliknya Kolaps

Jakarta – Baru-baru ini, salah satu startup terbesar di China untuk urusan jumlah user, Panda TV, menyatakan bangkrut lantaran kehabisan uang. Penyedia layanan streaming game itu diketahui didirikan pada 2015 lalu oleh Wang Sicong.

Berbeda dengan Panda TV yang gulung tikar, nama Wang Sicong ternyata masih terlalu besar untuk redup. Ia merupakan pendiri dari Invictus Gaming, salah satu tim eSports tersukses di Negeri Tirai Bambu. Ia bahkan dijuluki sebagai “Tony Stark”-nya eSports China.

Pertama, keduanya sama-sama membangun kerajaannya berkat bantuan besar ayah masing-masing. Saat Tony Stark punya Howard Stark, Wang Sicong didukung oleh Wang Jianlin, salah satu orang terkaya di China. Sicong bahkan dijuluki sebagai anak terkaya di China lantaran hal tersebut.
Kedua, baik Tony Stark maupun Wang Sicong sama-sama pernah menjadi atlet untuk tim profesional milik masing-masing. Pada film Iron Man 2, terdapat sebuah adegan saat Tony memutuskan untuk menjadi pembalap bagi timnya sendiri.

Serupa dengan Sicong yang terdaftar sebagai salah satu anggota tim Invictus Gaming. Ia sempat bermain satu kali dan menyandang rekor sebagai pemain tertua di liga profesional League of Legends China (LPL) di usia 30 tahun.

Ia tidak bermain bagus kala itu, namun timnya tetap merengkuh kemenangan. Sicong pun memutuskan untuk pensiun dan menjaga rekor kemenangannya pada persentase 100%, sebagaimana detikINET kutip dari Abacus, Rabu (13/3/2019).

Jalan ‘anak terkaya China’ menuju industri gaming bermula saat ia mulai merekam dirinya sendiri sedang bermain game, sebagaimana kerap dilakukan para YouTuber gaming kebanyakan. Dia melakukannya setelah kembali ke China sehabis menuntaskan pendidikan di Winchester College dan University College London di Inggris.

Selang beberapa waktu, pada 2011, ia mendirikan Invictus Gaming yang bersaing pada kompetisi League of Legends, Dota 2, dan StarCraft II. Invictus Gaming disebut sebagai salah satu tim League of Legends tersukses di liga profesional China.

Kemudian, pada 2015, Panda TV mulai berdiri dan tumbuh sebagai salah satu website penyedia layanan streaming terbesar di China, bersaing dengan Huya dan Douyu. Sayang, startup tersebut kesulitan mendapatkan pendanaan dan pailit baru-baru ini.

Terakhir kali mereka mendapat suntikan modal adalah pada 2017 dengan nominal USD 149 juta. Mirisnya, pada Oktober 2018, Panda TV sempat mengutarakan niatnya untuk melantai di bursa saham atau IPO pada Kuartal I 2019. (mon/fyk)