Kisah Pekerja TI dan Wanita Muda Jepang Tinggal di Warnet

Tokyo – Tak sedikit warga Jepang memilih tinggal di warung internet alias warnet dengan beberapa alasan. Mereka dijuluki gelandangan cyber, benar-benar sehari-hari menetap di sana.

Kabarnya ada ribuan warga di Jepang tinggal di warnet. Kebanyakan untuk menghemat biaya karena pendapatan rendah dan biaya tinggal sangat tinggi.

Salah satu yang pernah menceritakan kisahnya adalah Masata, karyawan bidang TI yang tinggal di warnet kawasan Tokyo selama 2 tahun. Cerita dia memang sudah dituturkan beberapa waktu silam, namun tampaknya masih relevan.

“Kamar di sini tak sepenuhnya privat, tidak ada plafonnya. Aku bisa mendengar suara atau dengkuran orang,” katanya yang dikutip dari laman Japan Live di Facebook.

“Aku pernah tinggal di apartemen, tapi banyak hal membuatku terganggu. Aku tak bisa bergaul dengan tetangga,” kata Masata.

Dia menambahkan tidak senang tinggal bergantun hanya di satu tempat. Warnet pun memberinya kebebasan sekaligus privasi. “Ini adalah tempat privat. Aku tak pernah bertemu siapapun,” ucap dia.

Apalagi di kota besar seperti Tokyo, orang cenderung tidak peduli satu sama lain. Namun demikian, Masata mengakui tidak ideal hidup di warnet. Ia pun ingin keluar sesegera mungkin dan punya keberanian menghadapi dunia nyata.

Ada pula Hitomi, wanita usia 23 tahun yang sudah 2 bulan menetap di warnet. Ia berprofesi sebagai pekerja malam.

“Aku tidak suka benar-benar sendirian, tapi juga ingin punya ruang sendiri. Itu adalah perasaan kontradiktif. Di sini, aku bisa memiliki keduanya,” sebut Hitomi.

Seperti sudah disebutkan, ruangannya privat tapi atapnya terbuka. Sehingga Hitomi tetap merasakan ada tetangga di dekat biliknya. (fyk/krs)