Jangan Bikin Startup Cuma buat Keren-kerenan

Jakarta – Banyaknya kisah sukses startup lokal mendorong anak muda Indonesia untuk tidak hanya bekerja di startup tapi juga mendirikan startup. Tapi Yasa Singgih, pendiri Men’s Republic, mewanti-wanti jangan asal keren-kerenan.

“Saya sering tanya anak muda, cita-citanya apa setelah selesai dari kampus. Dan banyak yang mau mulai startup supaya stratanya langsung naik, berasa keren gitu,” kata Yasa pada Thinkubator Startup Competition di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

“Please, jangan mulai startup cuma buat keren-kerennya doang, cuma supaya kalian dapat funding doang. Itu jebakan Batman banget,” sambungnya.

Menurutnya tidak semua orang harus menjadi pendiri startup. Ia pun menyarankan anak muda yang memiliki visi untuk mendirikan startup bisa pula dialihkan untuk menjadi pemberi sistem dukungan untuk startup yang telah ada.

“Ini startup sudah ada, kenapa kita nggak mikir enabler atau kita bikin support system untuk startup itu? Kenapa kita nggak cari Grab butuh apa? Kita support deh,” jelas Yasa menyebut Grab sebagai startup mapan yang juga sudah berstatus decacorn.

Venture Partner at Fenox Venture, Stephanie Yoe, juga mengamini nasihat Yasa. Menurutnya, anak muda yang ingin mendirikan startup hanya untuk mengejar uang sebaiknya berpikir dua kali.

Ia mengambil contoh sebuah startup perhotelan. Selama empat tahun berjalan, startup tersebut sempat memiliki valuasi hampir 50 juta dolar tapi pendirinya malah tidak mendapat sepeser pun.

“Kenapa bisa begitu? Karena kalau kalian masuk dunia startup buat mencari duit, duit itu byproduct dari value kita di society,” kata Stephanie dalam kesempatan yang sama.

“Kalau misalnya cuma nyari duit juga, kalian bisa end up kayak startup itu,” pungkasnya.

(vim/krs)