Indri Tak Malu Jadi Driver Ojol Meski Kuliah S-2

Denpasar – Indri Umbu Lado (29) tak malu menggeluti profesinya sebagai driver ojek online (ojol) di Bali. Wanita yang sedang kuliah S-2 jurusan Ekonomi di Universitas Udayana itu mengaku nyaman bekerja sebagai driver ojol.

“Sebelumnya sempat kepikiran gabung tapi tertunda. Pas resign belum ada panggilan kerja akhirnya gabung ke Gojek. 10 bulan kerja saya merasa nyaman karena di sini tuh tergantung kondisi kita kerja atau nggak, kalau di kantor kan saya sudah pengalaman bener-bener ngikutin SOP, sistem, hasilnya gitu-gitu aja,” ujar Indri saat ditemui di sela perayaan Hari Kartini di kantor Gojek, Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali, Rabu (24/4/2019).

Wanita berdarah NTT dan Jogja ini mengaku tak merasakan tekanan meski kuliah S2 sambil bekerja sebagai driver ojol. Soal pekerjaan barunya ini dia mengakui hanya keluarga dekat yang tahu.

“Saya memang niat awalnya datang ke Bali sudah komitmen kerja dan kuliah. Memang risikonya pasti ada, kerja kantoran dari 2014-2017. Sebelum di Gojek saya sudah ambil S2 di Unud jurusan ekonomi,” tuturnya.
“Soal S2 menurut saya sih nggak ada tekanan sama sekali, karena saya suka nyoba-nyoba semua hal dan ini bikin saya nyaman. Awalnya keluarga sih nggak tahu terus lama-kelamaan cuma beberapa sih ibu, kakak tahu, cuma sampai sekarang bapak nggak tahu, tahunya saya masih kerja kantoran. Takut kepikiran gimana gitu anaknya cewek kerja ngojek,” ujar Indri.

Indri mengaku kesal ketika orang lain menganggap pekerjaannya sebagai driver ojol rendahan. Padahal menurutnya penghasilannya sebagai driver ojol sangat memuaskan.

“Paling kesel memandang kerjaan ini sebelah mata, sering kan di restoran kalau nunggu orderan Go-Food digimanain. Kalau sudah diremehin saya keluarin duit Rp 3 juta di dompet. Padahal ya gaji pegawainya itu berapa sih per bulan, ini loh saya bisa dapat Rp 800 ribu sehari,” ucapnya.

Suka duka pun sudah dialami Indri selama menarik ojol. Dia paling kesal jika mendapat orderan fiktif atau diminta segera menjemput pelanggan.

“Dukanya pasti kalau dapat orderan fiktif atau disuruh cepat sama customer padahal kita jauh emangnya jin. Kebanyakan sih yang saya tangani nggak ada customer yang cancel ya, saya ngomong dengan etika yang baik dan benar,” ungkapnya.

Indri pun bangga karena dalam sehari dia bisa mendapat duit ratusan ribu dari narik ojol. Selain itu jam kerjanya lebih fleksibel.

“Penghasilannya lumayan bisa Rp 500 ribu kotor, paling sedikit Rp 200 ribu dan kalau high season bisa dapat Rp 800 ribu. Tergantung dari cara kita kerja kalau males-malesan dapatnya juga sedikit, bebas ngatur waktu, bisa maintenance sendiri. Kalau nganter barang atau makanan cepat (pelanggan) kasih tippingnya gede,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Indri juga tak takut bekerja hingga malam hari. Dia punya trik sendiri agar merasa aman.

“Kalau saya kerjanya malam, saya berusaha nggak pakai jaket Gojek tapi helm Gojek karena warnanya lebih terang. Terus saya ikat rambut ke atas jadi dari belakang keliatan kayak cowok,” ujar Indri. (idr/krs)