Cepatnya Hapus Konten Ujaran Kebencian, Facebook Dipuji Uni Eropa

Jakarta – Perusahaan media sosial kini semakin cepat dalam merespon dan menghapus konten ujaran kebencian di platform mereka. Perusahaan seperti Facebook, Google dan Twitter disebut berhasil menghapus 72% konten ujaran kebencian di platform mereka pada tahun 2018.

Menurut data dari Komisi Eropa yang merupakan badan eksekutif Uni Eropa, angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari dua tahun yang lalu, di mana perusahaan teknologi hanya berhasil menghapus 28% konten.

Temuan ini merupakan bagian dari kode etik yang diterbitkan oleh Uni Eropa untuk perusahaan media sosial. Perusahaan seperti Facebook, Microsoft, Google dan Twitter bergabung dalam kode etik ini pada tahun 2016 yang bertujuan untuk menghapuas konten rasis dan xenophobia di platform mereka.


Di antara keempat platform tersebut, Facebook yang menunjukkan progres paling cepat. Pada tahun 2016 mereka hanya berhasil menghapus 28,3% konten ujaran kebencian, tapi pada tahun 2018 mereka berhasil menghapus 82,4% konten ujaran kebencian.

Ini tentu merupakan hal yang positif bagi Facebook, mengingat platform yang dipimpin Mark Zuckerberg ini banyak dikritik karena dianggap gagal menghentikan penyebaran misinformasi saat pemilu AS tahun 2016.

“Selalu ada lebih banyak yang bisa kita lakukan untuk menangkal ujaran kebencian dan kita senang bahwa Facebook dan Instagram kini menjadi bagian dari Kode Etik,” ujar juru bicara Facebook seperti dikutip detikINET dari CNBC, Sabtu (9/2/2019).

Tapi tidak semua platform media sosial menunjukkan tren yang positif dalam penghapusan konten jahat ini. Seperti Twitter yang turun sedikit, dari tahun 2017 mereka menghapus 45% turun menjadi 43,5% pada tahun 2018.

European Commisioner, Vera Jourova mengatakan bahwa pihaknya merasa cukup puas dengan hasil yang dicapai oleh platform media sosial. Tapi, Uni Eropa tidak akan berhenti mengawasi dan menindak mereka.

“Kami akan terus memonitor upaya ini dengan sangat teliti, dan kami akan selalu mempertimbangkan langkah-langkah tambahan jika upaya mereka melambat,” jelas Jourova. (vim/afr)