CEO Go-Jek Klarifikasi Gelar Decacorn Laporan Lembaga Riset Global

Jakarta – Baru-baru ini, salah satu perusahaan ride hailing karya anak bangsa, Go-Jek, dilaporkan oleh lembaga riset CB Insight dalam The Global Unicorn Club telah menjadi salah satu startup yang menyandang status decacorn. Namun, status tersebut, kembali dipertanyakan kebenarannya.

Seperti diketahui, status decacorn disebut apabila startup telah memiliki nilai valuasi lebih dari USD 10 miliar. Berdasarkan laporan dari CB Insight, valuasi Go-Jek kini sudah menembus angka USD 10 miliar, akan tetapi Founder & CEO Go-Jek Nadiem Makarim sendiri mengaku bahwa pihaknya masih belum mencapai valuasi tersebut.

“Gross Transaction Value (GTV) Gojek kini mencapai USD 9 miliar. Ini naik sebanyak 13,5 kali lipat dalam 2 tahun terakhir, dan total volume transaksi setahun mencapai 2 miliar,” ujar Nadiem dalam acara press conference di Restoran Segarra, Taman Impian Jaya Ancol, Pantai Karnaval, Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Meski demikian, Nadiem menilai bahwa nilai valuasi bukanlah hal yang terpenting.
“Valuasi Go-Jek itu bukan hal yang kita umumkan. Culture kita bukan merayakan diri sendiri, biar orang lain yang merayakan kita. Valuasi itu hal yang penting tapi bukan yang terpenting,” ujar Nadiem.

Nadiem menambahkan, perusahaannya memiliki budaya dan mengacu pada filsafat ilmu padi. Di mana tidak perlu digembar-gemborkan setiap keberhasilan yang dicapai. Ketika semakin sukses, maka semakin pula rendah hati.

“Kita perusahaan bukan yang teriak-teriak pencapaian kita. Tapi saya klarifikasi (status decacorn). Namun kalau kita lihat capaian kita, pertama dari analisa user mingguan, tidak mungkin bisa jauh 1,5 lebih besar dari kompetitor jika kita tidak jadi pemimpin pasar,” ujarnya

Nadiem menyebut sesuatu hal yang dibanggakan adalah dampak sosial, bukan hanya sekadar valuasi nilai perusahaan.

“Yang terpenting adalah angka-angka seperti 1,7 juta mitra driver, 300 ribu umkm yang kita dukung dan juga inklusi keuangan yang kita ciptakan dengan adanya Go-Pay,” ujar Nadiem.

” Dampak kepada Indonesia lah angka-angka yang kita banggakan. Bukan hanya valuasi,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Go-Jek kini juga telah memiliki kontribusi terhadap perekonomian Indonesia dengan menyumbang sebesar Rp 44,2 triliun. Naik hampir 3 kali lipat dari tahun sebelumnya. Kontribusi tersebut menghitung selisih pendapatan mitra sebelum dan sesudah bergabung dengan Go-Jek. Angka tersebut baru dihitung dari 4 layanan Go-Jek, yakni Go-Ride, Go-Food, Go-Clean dan Go-Massage. (idr/fyk)