Bukan Lembaga Sosial, Ini Lho Cara Kerja Social Enterprise

Jakarta – Movement and Social Impact jadi salah satu tema yang diusung di acara workshop startupThinkubator hari ini.

Beberapa pembicara ahli pun dihadirkan. Peserta yang datang ke workshop ini pun amat ramai, salah satunya karena ranah social enterprise makin menjamur di Indonesia. Hal ini diakui Dian Onno, Founder Instellar yang membawahi banyak social startup.

“Semakin ke sini semakin senang karena semakin tersebar,” kata Dian di hadapan ratusan startup peserta Thinkubator, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

“Awalnya di Jakarta sekarang kita punya startup dari Gorontalo dari Papua yang bikin social impact dan bikin app juga. Semakin tinggi dan menyebar virus social enterprise,” ucapnya.

Kendati demikian, dia mengakui banyak orang yang masih salah kaprah soal social enterprise yang dianggap sebagai lembaga sosial.

“Orang selalu tanya social enterprise nggak ada uangnya ya karena sosial. Apalagi diterjemahin ke bahasa Indonesia itu usaha sosial dan lupa kalau dibelakangnya ada enterprise,” tandas dia lagi.

Dian mengaku social impact merupakan salah satu model dari social enterprise namun adalah yang perlu diperhatikan yaitu business model untuk profit.

“Kita lebih ke yang punya model for profit karena kalau kita mau nolong orang lain akan lebih baik kalau kita bisa nolong diri sendiri. Kalau diri sendiri ga bisa gimana kita nolong orang lain. Profit bukan karrna cari duitnya tapi butuh buat sustainability,” tuturnya.

Dian menjadi salah satu pembicara di acara workshop bersama dengan CEO Reblood Leonika Sari, Founder Instellar Dian Onno, dan Head of Product Green House Dina Kosasih.

(mul/krs)