Bukan buat Bikin Hoax, Ini Fungsi Perintah yang Bisa Ubah Isi Berita

Jakarta – Tutorial untuk mengubah tulisan di dalam berita yang baru-baru ini diunggah oleh seorang netizen sukses menghebohkan media sosial, khususnya Twitter. Warganet bersangkutan menunjukkan bagaimana ia dengan mudahnya memasukkan perintah sederhana di kolom URL untuk mengubah isi berita sesuai kehendaknya.

Lantas, apa sih sebenarnya perintah yang ia masukkan itu? Melihat dari thread yang dibuatnya, warganet tersebut mengaku mendapatkan perintah tersebut di dalam sebuah forum tanya-jawab bernama Stock Exchange.

Dalam forum tersebut, dijelaskan bahwa perintah tersebut sejatinya berkaitan dengan pembangunan sebuah situs. Hal ini diketahui dari pengakuan seorang pengembang situs yang mengaku bahwa perintah tersebut sangat berguna baginya.

Hal ini pun dikonfirmasi oleh Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber dari Vaksincom. Ia mengatakan bahwa itu sebenarnya tools untuk membangun sebuah situs.

“Jadi browser juga dapat digunakan untuk create konten. Dalam kasus ini menggunakan javascript,” ucapnya ketika dihubungi oleh detikINET, Jumat (17/5/2019).

Menariknya, metode ini juga sudah jamak dilakukan dalam kegiatan phising. Bahkan, Alfons mengatakan bahwa di dunia web hosting, ini hal yang tidak terlalu sulit untuk dilakukan.

“Itu sering digunakan oleh pembuat situs phishing memalsukan situs institusi keuangan, internet banking,” katanya.

“Jadi tinggal copy-paste bisa dapat semuanya, tinggal buat domain yang mirip lalu arahkan korban ke situ dan ditipu untuk memasukkan kredensialnya,” ujarnya menambahkan.

Hal ini tentu harus menjadi perhatian netizen karena fungsi tersebut dapat disalahgunakan dengan berbagai cara, walau sejatinya tugas utamanya bukan itu. Terlebih, selain berguna untuk melancarkan kegiatan phishing, metode ini juga berpotensi untuk memunculkan hoax karena siapapun dapat dengan mudah mengganti informasi dan sudut pandang dari sebuah berita.

Maka dari itu, mari kita menjadi netizen yang bijak. Jangan sebar hoax, dan jangan malas untuk memeriksa kebenaran dari informasi yang kita dapat di media sosial maupun aplikasi berbagi pesan singkat seperti WhatsApp.

(mon/fyk)