Achmad Zaky, Anak Desa yang Sukses Bikin Bukalapak Meraksasa

JakartaAchmad Zaky adalah salah satu pionir industri e-commerce Indonesia. Dia berhasil membesarkan Bukalapak menjadi salah satu e-commerce terbesar di Indonesia.

Berawal dari tahun 2010 dengan modal seadanya, Bukalapak kini memiliki ratusan pegawai dan menjadi salah satu tujuan utama bagi yang ingin belanja maupun jualan online. Dulu, pria berusia 32 tahun itu harus berusaha keras agar ada yang mau gabung jualan di Bukalapak.

Saat awal-awal berdiri, tak ada sama sekali yang mau mengakses Bukalapak. Para pelaku UKM yang jadi target Bukalapak pun disebut Zaky tak sudi ikut bergabung. “99% UKM menolak. Tapi namanya entreprenuer, tekad kami bulat. Teknologi harus dimanfaatkan oleh UKM,” ujarnya.

Garasi kecil menjadi awal kantor Bukalapak. “Waktu kami dari pagi sampai tengah malam habis untuk mengajak berbagai kalangan usaha untuk bergabung Bukalapak. Seringkali kami tidur di garasi kecil kami di bilangan Haji Nawi, Jakarta Selatan,” kisah Zaky.

“Weekend kami pun diisi dengan membangun Bukalapak, kadang refreshing sebentar ke Pondok Indah Mall, walau cuma bisa lihat-lihat saja, setelah itu balik ke garasi,” tuturnya di blog Bukalapak.

Zaky lahir di Sragen pada 24 Agustus 1986. Meski lahir di desa, ia bersyukur orang tuanya mementingkan pendidikan hingga lulus kuliah dari ITB. Di kampus itu, Zaky gemar mengutak atik software, bahkan pernah mendapatkan proyek membuat software quickcount.

“Setelah lulus, saya sejenak pulang kampung. Saya mengamati banyak sekali tetangga saya di kampung yang memiliki usaha kecil, tapi pendapatannya masih sama dengan belasan tahun sebelumnya, padahal ada inflasi,” Zaky menceritakan soal inspirasi berdirinya Bukalapak.

Achmad Zaky, Anak Desa yang Sukses Bikin Bukalapak MeraksasaPendiri Bukalapak, Achmad Zaky. Foto: dok. Bukalapak

“lnilah yang menjadi inspirasi awal pembuatan software lanjutan ini, bagaimana software bisa membuka kesempatan bagi usaha-usaha kecil seperti tetangga saya dan jutaan usaha kecil lainnya, untuk melebarkan sayap dan berkembang lebih besar lagi,” paparnya tahun lalu, saat memberikan kuliah umum di ITB.

“Perjalanan barupun dimulai, saya mencari nama dan domain. Dari ratusan nama yang saya daftar, terpilihlah Bukalapak. Selain harganya murah 90 ribu, nama ini menggambarkan misi software ini, bahwa siapapun bisa semudah menggelar tikar atau lapak dengan software. Siapapun bisa berbisnis dan menjadi besar lewat internet,” tutur Zaky.

Trafik Nol Hingga Meraksasa

Di saat awal-awal berdiri, Bukalapak tak mendulang trafik sama sekali, hanya tim mereka sendiri yang mengakses.Tapi CEO Bukalapak ini tak pantang menyerah. Ia mencari cara bagaimana bisa meyakinkan pihak UKM dan konsumen yang saat itu masih belum akrab dengan bisnis online. “Kami menawari tiap hari, selain itu ngajakin teman-teman,” kenangnya.

Berkat usahanya terus-menerus, butuh sekitar 9 bulan sejak didirikan barulah perkembangan Bukalapak mulai kelihatan. Selain memiliki trafik yang cukup baik, jumlah penjualnya pun diklaim telah mencapai sembilan ribuan saat itu.

Seiring perkembangan internet yang makin cepat dan murah, serta meluasnya peredaran smartphone yang terjangkau, semakin kemari Bukalapak juga makin dikenal.

Begitulah singkat cerita, Zaky sukses dengan bisnis e-commerce tersebut. BukaLapak sekarang disebut-sebut sebagai salah satu unicorn di Indonesia, sebutan untuk startup dengan nilai minimal USD 1 miliar.

Media Globe Asia pada tahun 2018 juga melakukan penelusuran berapa harta Achmad Zaky. Ia disebut masuk deretan 150 orang terkaya di Indonesia versi media tersebut dengan kekayaan USD 105 juta atau lebih dari Rp 1,5 triliun. Tepatnya, Zaky menempati urutan ke-149.

Dalam berbagai kesempatan, Zaky sering mengumbar nasihat untuk kaum muda. Achmad pedrnah mengatakan anak muda Indonesia berpeluang besar untuk menyelesaikan masalah-masalah besar di Indonesia.

“Bikin startup tentang korupsi, bikin solusi tentang kemacetan, tentang kemiskinan, tentang sampah, dan masih banyak lagi. Itu opportunity buat kita,” ujarnya.

Ia berujar bahwa anak muda itu berani dan kepalanya kosong, sehingga bisa diisi dengan paradigma baru. Ia pun mengambil contoh Mark Zuckerberg yang memulai Facebook di usia yang sangat muda.

“Banyak unicorn di Amerika itu mulai bisnisnya umur 18-30. Dan usia ini tepat bagi teman-teman yang ingin mulai bisnis karena jika isi kepalanya penuh maka akan susah diisi,” pungkasnya.

(fyk/rou)